Showing posts with label Bisnis & Managment. Show all posts
Showing posts with label Bisnis & Managment. Show all posts
7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara Mengatasinya

7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara Mengatasinya

7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara Mengatasinya

Secara umum, dapat dikatakan bahwa manufaktur merupakan kegiatan memproses suatu atau beberapa bahan menjadi barang lain yang mempunyai nilai tambah yang lebih besar. Kegiatan manufaktur dapat dilakukan oleh perorangan atau manufacturer maupun oleh perusahaan atau manufacturing company. Sedangkan industri manufaktur merupakan kelompok perusahaan sejenis yang mengolah bahan-bahan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang bernilai tambah lebih besar. Ketahui lebih banyak tentang perkembangan industri manufaktur di Indonesia, apa saja tantangan industri manufaktur, dan bagaimana cara menghadapinya.

Selain kondisi perekonomian nasional dan internasional yang tidak stabil, ada berbagai tantangan industri manufaktur yang harus dihadapi. Berikut ini adalah beberapa tantangan utama dalam industri manufaktur:

1. Kesulitan dalam memprediksi permintaan produk

7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara Mengatasinya Yang menjadi masalah utamanya adalah para produsen tidak memiliki alat pelaporan canggih yang memungkinkan mereka untuk memperkirakan berapa banyak yang harus mereka jual di beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan. Akibatnya, barang yang diproduksi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan pelanggan.

Agar dapat mengetahui berapa banyak permintaan pelanggan untuk setiap produk, maka setiap produsen sebaiknya memiliki perangkat lunak dengan fitur pelaporan yang akurat. Sehingga dapat memudahkan mereka dalam menargetkan penjualan serta memperkirakan berapa banyak produk yang sebaiknya mereka jual di masa depan. Selain memanfaatkan perangkat lunak untuk membuat prakiraan yang akurat, setiap produsen juga perlu melakukan pertimbangan berdasarkan kejadian-kejadian eksternal seperti pergerakan kurs mata uang, kenaikan harga bahan bakar minyak, tren pasar saat ini, dan lain sebagainya.

2. Kesulitan dalam mengontrol persediaan

7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara MengatasinyaPengelolaan persediaan memang masih menjadi salah satu tantangan industri manufaktur. Tetapi berkat bantuan solusi otomatis, prosesnya sudah menjadi lebih sederhana. Namun sayangnya, saat ini masih banyak produsen yang bisnisnya berskala kecil, masih mengelola persediaan material mereka secara manual. Melakukan pengecekan stok secara manual sangat tidak efisien dan rawan kesalahan yang dapat mengakibatkan ketidakakuratan dalam penghitungan.

Untuk menghindari pembelian bahan baku dan peralatan yang tidak perlu atau untuk menghindari terjadinya kekurangan persediaan yang berujung pada ketidakpuasan pelanggan, strategi manajemen persediaan yang baik sangat diperlukan. Audit dan pemeriksaan inventaris secara rutin penting untuk dilakukan sebagai proses identifikasi terhadap ketidaksesuaian pada data dan jumlah barang yang sebenarnya.  Barcode scanner juga dapat digunakan untuk mempercepat proses pengecekan.

3. Kesulitan dalam meningkatkan efisiensi di pabrik

7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara MengatasinyaHingga saat ini produsen masih mencari cara yang efektif untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi di pabrik manufaktur mereka. Banyak produsen yang memilih untuk mengorbankan kualitas produk demi mengurangi biaya produksi. Tetapi cara ini justru akan menurunkan profitabilitas, sebab pelanggan yang tidak puas akan berhenti melakukan pembelian.

Salah satu cara yang paling efektif untuk mengoptimalkan efisiensi di pabrik manufaktur adalah dengan modernisasi proses dan sistemasi alur kerja. Produsen perlu mengurangi pekerjaan-pekerjaan yang membuang banyak waktu dan tenaga. Selain itu, produsen juga perlu mengurangi pembuangan material, mengoptimalkan penggunaan peralatan produksi dengan meminimalkan kerusakan,  dan menyederhanakan rantai pasokan. Sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dapat memfasilitasi semua hal tersebut sehingga dapat membantu produsen mencapai efisiensi yang optimal.

4. Kesulitan dalam meningkatkan ROI

7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara MengatasinyaSetiap produsen pasti ingin meningkatkan ROI dengan mudah. Pada umumnya, mereka memilih untuk memperbanyak produksi atau meningkatkan harga produk. Tetapi, hal ini bukanlah cara yang efektif terutama ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu sehingga dapat menurunkan daya beli konsumen.

Peningkatan ROI dapat dilakukan dengan beberapa cara. Yang pertama adalah meningkatkan penjualan dengan strategi yang benar. Produsen perlu mendefinisikan return, sebab ROI dapat mencakup penjualan yang lebih tinggi, peningkatan pendapatan, laba yang lebih besar, pengurangan biaya overhead atau biaya produksi, retensi karyawan yang lebih tinggi, dan kepuasan pelanggan yang lebih baik. Kemudian, produsen perlu membuat tolak ukur untuk mendapatkan hasil investasi yang optimal. Yang kedua adalah memperbarui strategi pemasaran dengan memanfaatkan digital marketing, karena biayanya lebih murah daripada cara konvensional. Yang ketiga adalah mengurangi biaya produksi dengan mengubah desain atau material kemasan tanpa harus mengorbankan kualitas produk dan bernegosiasi dengan pemasok untuk memberikan harga diskon.

5. Kekurangan tenaga kerja yang berkualitas

7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara MengatasinyaHal tersebut dikarenakan saat ini pekerja manufaktur yang berkualitas dari generasi baby boomers sudah mulai meninggalkan pekerjaan mereka. Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja yang berkualitas, produsen harus kreatif dalam melakukan perekrutan karyawan. Yaitu dengan mengandalkan berbagai online platform untuk mem-posting lowongan pekerjaan. Produsen harus benar-benar selektif saat memilih calon karyawan dan memastikan bahwa mereka mampu bekerja dengan cepat, sesuai dengan target, di bawah tekanan, dan tidak keberatan dengan jadwal kerja yang berubah. Selain itu, produsen juga harus dapat memfasilitasi karyawan baru dan karyawan lama dengan pelatihan secara berkala untuk membantu meningkatkan potensi karyawan tersebut.

6. Kesulitan dalam mengelola prospek penjualan

7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara MengatasinyaTantangan lain yang sering dihadapi oleh produsen adalah dalam hal mengelola dan memprioritaskan prospek penjualan. Kesalahan yang paling sering dilakukan oleh produsen adalah memperlakukan prospek dengan cara yang sama. Padahal setiap prospek harus diperlakukan secara khusus, karena masing-masing memiliki karakter, preferensi, dan kebutuhan yang berbeda. Produsen juga sering kesulitan untuk mengidentifikasi prospek yang berpotensi sehingga mereka sering berfokus pada peluang-peluang yang tidak menjanjikan dan lupa melakukan follow up dengan prospek yang memiliki potensi tinggi menjadi pelanggan baru.

Produsen harus benar-benar paham terhadap prospek mereka. Hal ini dapat dilakukan ketika tim penjualan menghubungi atau menemui prospek secara langsung, dan bisa juga dengan melihat informasi prospek. Produsen harus memiliki satu sistem yang memudahkan mereka untuk menyimpan, mengelola, dan melacak informasi prospek secara mudah.

7. Kebingungan pada kemunculan teknologi baru

7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara MengatasinyaKemunculan teknologi baru memang sering terjadi setiap tahunnya. Meliputi IoT, robot, dan perangkat lunak manufaktur. Kemunculan teknologi-teknologi canggih tersebut tentu saja membuat para produsen merasa kebingungan.

Menghindari teknologi tentu aja bukan merupakan pilihan yang baik. Karena setiap produsen memang harus bisa beradaptasi terhadap perubahan apapun, termasuk teknologi, untuk dapat bersaing di industri manufaktur yang kompetitif. Akan tetapi, produsen sebaiknya tidak gegabah dalam membuat keputusan untuk mengimplementasikan solusi otomatis di pabrik mereka. Cara terbaik yang dapat produsen lakukan adalah dengan berdiskusi dengan seluruh pemangku kepentingan dan melibatkan karyawan mereka untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi sehari-hari. Produsen juga perlu mempertimbangkan anggaran perusahaan untuk menentukan apakah perusahaan siap untuk berinvestasi pada teknologi yang diinginkan atau tidak.

Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur

Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur

Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur


Dibandingkan dengan perusahaan dagang, masalah khusus akuntansi perusahaan manufaktur adalah persediaan, biaya pabrikasi (manufacturing costs), biaya produksi dan beban pokok produksi dari perusahaan manufaktur itu sendiri.

Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur

Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur

A. Persediaan (Inventory)

Perusahaan Berdasarkan perusahaan dagang, dalam perusahaan manufaktur biasanya terdiri dari tiga macam, yakni:

1. Persediaan bahan baku (raw materials inventory)
2. Persediaan barang dalam proses (work in process inventory)
3. Persediaan barang jadi (finished goods inventory)

Persediaan bahan baku melaporkan harga pokok bahan baku yang ada pada tanggal neraca. Bahan baku adalah barang-barang yang digunakan dalam proses produksi. Persediaan dalam proses terdiri dari biaya bahan baku dan biaya-biaya manufaktur lain yang telah terjadi untuk memproduksi barang yang belum selesai. Untuk menyelesaikannya masih diperlukan tambahan biaya. Persediaan barang jadi terdiri dari total biaya pabrik untuk barang-barang yang telah selesai diproduksi, tetapi belum dijual. Sebuah perusahaan manufaktur dengan demikian harus menyediakan tiga perkiraan untuk persediaan.

B. Biaya Manufaktur (Manufacturing Cost)

Biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan manufaktur selama suatu periode disebut biaya manufaktur (manufacturing cost), atau lebih dikenal dengan biaya pabrik. Biaya ini digunakan untuk menyelesaikan barang yang masih sebagian selesai di awal periode, barang-barang yang dimasukkan dalam proses produksi periode itu dan barang-barang yang baru dapat diselesaikan sebagian di akhir periode. Pada dasarnya biaya pabrik dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Biaya bahan baku (raw materials cost) yaitu biaya untuk bahan-bahan yang dapat dengan mudah dan langsung diidentifikasikan dengan barang jadi. Contoh bahan baku adalah kayu bagi perusahaan mebel atau tembakau bagi perusahaan rokok.
  2. Biaya tenaga kerja lansung (direct labor cost) adalah biaya untuk tenga kerja yang menangani secara langsung proses produksi atau yang dapat diidentifikasikan langsung dengan barang jadi. Contoh buruh langsung adalah tukang kayu dalam perusahaan mebel atau pelinting rokok dalam perusahaan rokok (Sigaret Kretek Tangan = SKT).
  3. Biaya overhead pabrik (overhead cost) adalah biaya-biaya pabrik selain bahan baku dan tenga kerja langsung. Biaya ini tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan.
    Contoh biaya overhead pabrik adalah:
    • bahan pembantu (kadangkadang disebut: bahan tidak langsung (indirect materials) misalnya perlengkapan pabrik (mur, baut dan pelitur dalam perusahaan mebel);
    • tenga kerja tidak langsung (indirect labor) yaitu tenaga kerja yang pekerjaannya tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan, misalnya gaji mandor;
    • pemeliharaan dan perbaikan (maintenance and repair); (4) listrik, air telepon dan lainlain.

Ketiga jenis biaya manufaktur ini dapat dihubungkan dan dilihat keterkaitannya dengan memperhatikan bagan yang diilustrasikan di bawah ini.

C. Biaya Produksi (Production Cost) dan Biaya Periode (Period Cost)

Biaya produksi (production cost) adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan barang dalam proses awal ditambah biaya pabrikasi (manufacturing cost), kemudian dikurangi dengan persediaan barang dalam proses akhir. Biaya pabrikasi adalah semua biaya yang berhubungan dengan proses produksi. Tiga komponen biaya yang terdapat dalam biaya produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead. Biaya overhead adalah semua biaya pabrikasi (semua biaya yang terkait dengan proses produksi) yang bersifat tidak langsung, termasuk biaya-biaya yang dibebankan pada persediaan dalam proses pada akhir periode. Biaya overhead ini seringkali tidak dapat diatribusikan/dilekatkan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan secara spesifik. Karena biaya ini biasanya dinikmati bersama selama proses produksi berlangsung. Dalam situasi tertentu dapat pula disebut sebagai biaya bersama (common cost).

Biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung sering pula disebut sebagai biaya utama (prime cost), yaitu biaya yang merupakan komponen utama dari produk yang dibuat dan dapat dengan mudah diatribusikan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan atau dibuat. Biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead sering pula disebut sebagai biaya konversi (conversion cost), yaitu biaya yang dikeluarkan atau terjadi sehingga bahan baku dapat diubah menjadi produk jadi.

Kelompok biaya lain selain biaya produksi adalah biaya periode (period cost), yaitu biaya nonpabrikasi yang dikeluarkan atau terjadi selama periode berjalan dalam rangka operasional perusahaan. Biaya ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni beban penjualan atau pemasaran dan beban-beban administratif. Klasifikasi biaya yang berbeda-beda ini dilakukan agar dapat mengukur kinerja atau prestasi masing-masing bagian secara lebih fair. Kata lainnya adalah, alokasi yang tepat akan dapat meningkatkan pertanggungjawaban masingmasing bagian. Sehingga sebuah beban, bisa jadi teralokasikan ke dalam pos-pos yang berbeda walaupun jenisnya sama. Beban depresiasi komputer, misalnya, bisa jadi merupakan kelompok biaya overhead, jika komputer tersebut berada di atau dipergunakan untuk kegiatan oleh departemen produksi. Mungkin juga merupakan beban pemasaran/penjualan jika komputer tersebut dimanfaatkan oleh bagian tersebut. Atau boleh jadi pula beban depresiasi komputer tersebut merupakan kelompok  beban adminstratif jika komputernya digunakan oleh bagian kantor atau administrasi. Oleh karena itulah kita harus dapat mengklasifikasikan setiap beban ke dalam kelompok biaya yang tepat karena berdasarkan laporan tersebut kinerja suatu bagian/seseorang akan diukur.

D. Beban pokok produksi (Cost of Goods Manufactured)

Biaya barang yang telah diselesaikan selama suatu periode disebut beban pokok produksi barang selesai (cost of goods manufactured) atau disingkat dengan beban pokok produksi. Harga pokok ini terdiri dari biaya pabrik ditambah persediaan dalam proses awal periode dikurangi persediaan dalam proses akhir periode. Beban pokok produksi selama suatu periode dilaporkan dalam laporan harga produksi (cost of goods manufactured statement). Laporan ini merupakan bagian dari beban pokok penjualan (cost of goods sold).

Poin-poin diatas merupakan masalah khusus akuntansi perusahaan manufaktur yang harus diperhitungkan agar perusahaan manufaktur tersebut tetap berproduksi.

Keuntungan Leasing

Keuntungan Leasing

Keuntungan Leasing

Keuntungan leasing dalam pembiayaan merupakan pembiayaan yang sangat sederhana dalam prosedur dan pelaksanaannya dan oleh karena itu leasing yang digunakan sebagai pembayaran alternatif tampak lebih menarik. Sebagai suatu alternatif sumber pembiayaan modal bagi perusahaan-perusahaan, maka leasing didukung oleh keuntungan-keuntungan.


Beberapa manfaat dan keuntungan menggunakan leasing adalah sebagai berikut:

1. Fleksibel

Perusahaan leasing sistemnya kontrak sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan kita. Kemudian besar pembayaran dan jangka waktu pembayaran dapat di sesuaikan dengan kondisi perusahaan kita. Kita dapat membuat kesepakatan sendiri dengan pihak leasing sesuai dengan kemampuan perusahaan kita.

2. Tidak diperlukan jaminan

Sesuatu yang menarik dari leasing ini adalah tidak meminta jaminan dari lesee. Namun kita dapat memiliki hak atas barang modal berdasarkan aktiva yang di lease. Pnedapatn dari aktiva itu snediri yang merupakan jaminan dari lease tesrsebut.

3. Cepat dalam pelayanan

Prosedur leasing sangat sederhana sehingga pelayanannya sangat cepat dan mudah sehingga mempermudah dalam pembiayaan. Lesse akan dengan mudah mendapatkan barang-barang yang di butuhkan untuk modal usaha.

4. Capital saving

Capital saving yaitu lessor membiayai 100% untuk barang atau modal yang kita butuhkan. Dengan adanya pembiayaan oleh lessor maka dapat menghemat modal bagi perusahaan lesse. Sehingga modal yang dimiliki oleh lesse dapat dihunakan untuk keperluan lainnya

5. Pembayaran angsuran diperlakukan sebagai biaya operasional

Ini yang menarik pembayaran angsuran dapat dimasukkan kedalam biaya operasional perusahaan. Pembanyaran lease dihitung dalam penentuan laba rugi perusahaan. Jadi perhitungannya dari pendapatan sebelum pajak, bukan dari laba yang terkena pajak.

6. Sebagai pelindung inflasi

Leasing juga dapat menghindari risiko penurunan nilai uang yang disebabkan oleh inflasi. Jadi lease sampai kapanpun akan membayar dengan satuan moneter yang lalu terhadap sisa kewajiban (hutang) nya.

Kesimpulan

Menggunakan leasing bisa menjadi pilihan bagi Anda yang ingin melakukan pembelian sesuatu, jika hal tersebut tidak bisa Anda beli secara kontan dan barang itu sangat penting, misalnya untuk pembelian mesin produksi atau hal yang berhubungan dangan kegiatan usaha Anda.

Namun Anda juga harus mempertimbangkan pembayaran angsuran setiap bulan dan menjadikan hal tersebut sebagai pengeluaran rutin pada pembukuan bisnis Anda. Jangan sampai lupa membayar angsuran, karena biasanya akan dikenakan biaya bunga yang tentunya akan membebankan bisnis Anda.


Karakteristik Perusahaan Manufaktur

Karakteristik Perusahaan Manufaktur

Materi karakteristik perusahaan manufaktur ini akan membahas karakteristik, akuntansi khusus dan pelaporan operasi perusahaan manufaktur. Tujuan pengajaran dari materi karakteristik perusahaan manufaktur ini adalah agar para siswa dapat memahami karakteristik perusahaan manufaktur.

Karakteristik Perusahaan Manufaktur

Perusahaan manufaktur (manufacturing firm) adalah perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi barang jadi kemudian menjual barang jadi tersebut. Kegiatan khusus dalam perusahaan manufaktur adalah pengolahan bahan baku menjadi barang jadi. Kegiatan ini sering disebut proses produksi. Kegiatan produksi, apabila digambarkan akan nampak seperti di bawah ini:

Karakteristik Perusahaan ManufakturSkema kegiatan produksi perusahaan manufaktur

Akuntansi Perusahaan Manufaktur

Bidang akuntansi yang menangani masalah produksi disebut akuntansi biaya (cost accounting). Tujuannya, menetapkan beban pokok produksi barang jadi. Bab ini akan membahas sesuai ruang lingkup yang telah disebutkan, yakni penetapan beban pokok produksi. Titik berat pembahasan masih diletakkan pada pengenalan terhadap proses akuntansi dan laporan khusus untuk perusahaan manufaktur.

proses akuntansi dan laporan khusus untuk perusahaan manufaktur

Gambar di atas menunjukkan karakteristik khusus perusahaan  manufaktur yang membedakannya dengan jenis perusahaan lain seperti perusahaan dagang atau perusahaan jasa. Perbedaan tersebut terletak pada persediaan-persediaannya, biaya pabrikasi (manufacturing costs), biaya produksi dan beban pokok produksinya. Kita juga bisa memahami perbedaan dalam komponen perhitungan beban pokok penjualan pada sebuah perusahaan manufaktur dengan perusahaan dagang melalui penggambaran di bawah ini.

komponen perhitungan beban pokok penjualan pada sebuah perusahaan manufaktur

Komponen penambah dalam beban pokok penjualan untuk perusahaan dagang diperoleh dari pembelian barang dagangan yang ditambahkan ke persediaan barang dagangan yang telah dimiliki. Pada perusahaan manufaktur, komponen penambah persediaan awal barang jadi diperoleh dari harga pokok pabrikasi/beban pokok produksi yang dibebankan selama proses mengubah bahan baku menjadi barang jadi berlangsung. Setelah barang yang tersedia untuk dijual (baik pada perusahan dagang maupun pada perusahaan manufaktur) dikurangi dengan persediaan akhir, maka didapatlah beban pokok penjualan.

Diatas merupakan uraian dari pokok bahasan karakteristik perusahaan manufaktur, semoga dapat dipahami dan selamat belajar.

Istilah Dalam Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur

Istilah Dalam Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur

Istilah dalam akuntansi untuk perusahaan manufaktur

perlu diingat dan dipahami dengan baik makna dan tujuan dari istilah tersebut bagi seorang akuntan. Berikut adalah beberapa istilah akuntansi yang terdapat dalam poko bahasan “Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur”.

Istilah Dalam Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur

Istilah Dalam Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur

  1. Akuntansi biaya (cost accounting): bidang akuntansi yang berhubungan dengan penetapan beban pokok produksi dalam sebuah perusahaan pabrik/manufaktur (sekarang ini ruang lingkup akuntansi biaya diakui tidak hanya terbatas pada penetapan beban pokok produksi saja, tetapi juga mencakup perencanaan dan pengendalian).
  2. Bahan baku (raw materials): bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi yang dapat dengan mudah dan langsung diidentifikasikan dengan barang jadi yang dihasilkan.
  3. Bahan pembantu (indirect materials): bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi, tetapi tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang jadi yang dihasilkan.
  4. Bahan jadi (finished goods): barang yang telah selesai diproduksi tetapi belum dijual. Biaya yang tercakup di dalamnya meliputi seluruh biayapabrik.
  5. Biaya pabrik (manufacturing cost): biaya bahan baku, buruh langsung dan biaya pabrikase yang dibebankan dalam suatu periode.
  6. Biaya overhead prabik (factory overhead cost): biaya-biaya pabrik selain bahan baku dan barang langsung yang tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang jadi yang dihasilkan.
  7. Biaya produksi (production cost): Biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan dalam proses awal ditambah biaya pabrik.
  8. Tenaga kerja langsung (direct labor): buruh yang mengenai secara langsung proses produksi atau yang dapat diidentifikasikan langsung dengan barang jadi yang dihasilkan.
  9. Tenaga kerja tidak langsung (indirect labor): barang yang biayanya tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan.
  10. Beban pokok produksi (cost of goods manufactured): biaya pabrik ditambah dengan persediaan dalam proses awal dikurangi dengan persediaan dalam proses awal dikurangi dengan persediaan dalam proses akhir. Biaya ini merupakan biaya produksi dari barang yang telah diselesaikan selama suatu periode.
  11. Persediaan dalam proses (work in process): Biaya bahan baku dan biaya-biaya pabrik lain yang telah terjadi untuk memproduksi barang yang belum selesai.
  12. Cost of goods sold computation – perhitungan beban pokok penjualan. Dalam sebuah perusahaan manufaktur, beban pokok penjualan dihitung sebagai berikut: persediaan awal barang jadi ditambah barang yang dibuat dalam setahun (menurut laporan pabrikasi) dikurangi dengan persediaan akhir barang jadi; juga dinamakan skedul beban pokok penjualan.
  13. Finished goods inventory – persediaan barang jadi. Sebuah asset lancar yang terdiri atas biaya yang terjadi dalam pembuatan produk perusahaan (mencakup bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik); persediaan barang jadi terdiri dari produk yang telah siap, tapi belum lagi dijual pada tanggal neraca.
  14. Manufacturing statement – laporan pabrikasi. Sebuah laporan untuk manajemen yang menunjukkan harga pokok barang yang dibuat selama periode tersebut; persediaa awal barang dalam proses ditambah biaya pembuatan (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead) dikurangi dengan persediaan akhir persediaan dalam proses sama dengan harga pokok barang yang dihasilkan dalam periode tersebut.
  15. Raw material inventory – persediaan bahan baku. Suatu asset lancar yang terdiri dari bahan baku dan penolong yang dipergunakan dalam pembuatan produk perusahaan.
  16. Schedule of factory overhead. Suatu laporan yang berisi semua perkiraan overhead pabrik yang terdapat pada buku pembantu overhead pabrik dengan saldonya; total saldo dari perkiraan ini harus cocok dengan saldo perkiraan overhead pabrik.
  17. Work in process inventory – persediaan barang dalam proses. Asset lancar yang terdiri dari biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang terjadi dalam pembuatan produk yang masih belum selesai pada tanggal neraca; juga dinamakan persediaan barang dalam proses.

Diatas terdapat 17 istilah dalam akuntansi untuk perusahaan manufaktur dimana istilah akuntansi tersebut perlu dipahami makna dan tujuannya.

Akuntansi Untuk Sewa Guna Usaha (Leasing)

Akuntansi Untuk Sewa Guna Usaha (Leasing)

Leasing atau sewa-guna-usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing

Akuntansi Untuk Sewa Guna Usaha (Leasing)

berdasarkan nilai sisa uang yang telah disepakati bersama. Dengan melakukan leasing perusahaan dapat memperoleh barang modal dengan jalan sewa beli untuk dapat langsung digunakan berproduksi, yang dapat diangsur setiap bulan, triwulan atau enam bulan sekali kepada pihak lessor.

Akuntansi Untuk Sewa Guna Usaha (Leasing)

Pemahaman Tentang Akuntansi Untuk Sewa Guna Usaha (Leasing)

Melalui pembiayaan leasing perusahaan dapat memperoleh barang-barang modal untuk operasional dengan mudah dan cepat. Hal ini sungguh berbeda jika kita mengajukan kredit kepada bank yang memerlukan persyaratan serta jaminan yang besar. Bagi perusahaan yang modalnya kurang atau menengah, dengan melakukan perjanjian leasing akan dapat membantu perusahaan dalam menjalankan roda kegiatannya. Setelah jangka leasing selesai, perusahaan dapat membeli barang modal yang bersangkutan. Perusahaan yang memerlukan sebagian barang modal tertentu dalam suatu proses produksi secara tibatiba, tetapi tidak mempunyai dana tunai yang cukup, dapat mengadakan perjanjian leasing untuk mengatasinya. Dengan melakukan leasing akan lebih menghemat biaya dalam hal pengeluaran dana dibanding dengan membeli secara tunai.

Akuntansi Untuk Sewa Guna Usaha (Leasing) Di Indonesia

Di Indonesia leasing baru dikenal melalui surat keputusan bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia dengan No.KEP-122/MK/IV/2/1974, No.32/M/SK/2/1974, dan No.30/Kpb/I/1974 tanggal 7 Februari 1974 tentang perizinan usaha leasing. Sejalan dengan perkembangan waktu dan perekonomian Indonesia permasalahan yang melibatkan leasing semakin banyak dan kompleks. Mulai dari jenis leasing yang paling sederhana sampai yang rumit. Perbedaan jenis leasing menyebabkan perbedaan dalam pengungkapan laporan keuangan, perlakuan pajak dan akibatnya pada pajak penghasilan badan akhir tahun. Capital lease dan operating lease sama-sama dikenakan pajak pertambahan nilai, sedangkan untuk operating lease disamping dikenakan pajak pertambahan nilai juga dikenakan pemotongan pajak penghasilan pasal 23, hal ini karena diperlakukan sebagai sewa menyewa biasa. Biaya-biaya yang berkaitan dengan transaksi lease dianggap sebagai biaya usaha bagi pihak lessee.

Istilah-istilah Dalam Sewa Guna Usaha (Leasing) Di Indonesia

Dalam transaksi leasing, terdapat istilah-istilah yang berbeda dengan istilah yang dipakai pada industri lainnya. Beberapa istilah itu yang perlu dikenal untuk memahami transaksi leasing-adalah:

  1. Lease : Suatu kontrak sewa atas penggunaan harta untuk suatu periode tertentu dengan sewa tertentu.
  2. Lessee : Pemakai aktiva yang akan di lease. Perusahaan atau perorangan yang menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari pihak perusahaan leasing.
  3. Lessor : Pemilik dari aktiva yang akan di lease.
  4. Lease term: Jangka waktu lease yang tetap dan tidak dapat dibatalkan, termasuk:
    1. Periode yang mencakup hak opsi untuk memperbarui kontrak leasing.
    2. Periode yang mencakup digunakannya hak opsi untuk membeli aktiva yang dilease.
    3. Periode dimana lessor mempunyai hak untuk memperbarui atau memperpanjang masa lease.
    4. Periode dimana denda dikenakan bagi lessee atas egagalannya untuk memperbarui lease dan jumlahdenda tersebut dijamin pada permulaan lease.
    5.  Periode yang mencakup hak opsi pembaruan yang biasa yaitu diberikan jaminan oleh lessee atas utang lessor yang mungkin terjadi.
  5. Residual Value: Nilai leased asset yang diperkirakan dapat direalisasi pada akhir periode sewa.
  6. Security Deposit (SD): Jaminan kas yang diminta lessor dari sewa lessee untuk menjamin pembayaran sewa atau kewajiban sewa lainnya.

Diatas merupakan gambaran singkat tentang apa yang dimaksud leasing dan awal mula perkembangan leasing masuk di Indonesia.

Akuntansi Perusahaan Manufaktur

Akuntansi Perusahaan Manufaktur

Akuntansi Perusahaan Manufaktur


Materi akuntansi perusahaan manufaktur akan membahas tahap demi tahap siklus akuntansi meliputi tahap pencatatan dan tahap pengikhtisaran. Pembahasan  perusahaan manufaktur di sini lebih pada menguraikan tahap-tahap tersebut secara garis besar saja. Penekanan diberikan pada proses akuntansi untuk masing-masing akun/rekening/perkiraan perusahaan manufaktur (ketiga istilah ini dipakai seluruhnya, secara bergantian, sepanjang pembahasan dalam buku ini untuk menunjukkan bahwa ketiganya merupakan istilah yang lazim dipakai sehari-hari dalam praktik pada DU/DI). Namun demikian, tetap diharapkan bahwa pemaparan berikut ini telah mencakup semua pemahaman minimal yang diperlukan untuk dapat menjalankan proses akuntansi pada sebuah  perusahaan manufaktur.

Akuntansi Perusahaan Manufaktur

Seperti telah dijelaskan, siklus akuntansi meliputi tahap pencatatan dan tahap pengikhtisaran yang terdiri dari:

Tahap pencatatan

1. Pembuatan atau penerimaan bukti transaksi
2. Pencatatan dalam jurnal
3. Pemindahanbukuan ( posting ) ke buku besar

Tahap pengikhtisaran

4. Pembuatan neraca saldo
5. Pembuatan neraca lajur dan jurnal penyelesaian
6. Penyusunan laporan keuangan
7. Pembuatan jurnal penutup
8. Pembuatan neraca saldo penutup
9. Pembuatan jurnal balik

Bahan Baku (Raw Materials)

Pembelian bahan baku, seperti halnya perusahaan dagang, dicatat dalam buku pembelian (untuk pembelian kredit) dan buku pengeluaran kas (untuk pembelian tunai). Pembayaran hutang yang bersangkutan dicatat dalam buku pengeluaran kas. Di buku besar, pembelian bahan baku dicatat dalam rekening pembelian dan rekening-rekening  lain yang berhubungan, misalnya potongan pembelian serta pembelian retur dan pengurangan harga. Pengeluaran bahan baku dari gudang untuk produksi tidak dicatat. Pemakaian bahan baku selama suatu periode dihitung sebagai berikut:

Akuntansi Perusahaan Manufaktur

Jadi, seperti dalam perusahaan dagang, perkiraan persediaan bahan baku hanya digunakan untuk menampung ayat jurnal penyesuaian pada akhir periode. Jurnal penyesuaian dibuat untuk nilai persediaan yang ada di awal dan akhir periode. Sementara itu, nilai persediaan ditentukan dengan mengadakan penghitungan fisik. Jurnal penyesuaian untuk persediaan (awal dan akhir) dilakukan terhadap rekening  Ikhtisar Beban pokok produksi.

Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)

Pembayaran gaji kepada tenaga kerja langsung dicatat dalam buku pengeluaran kas. Dalam buku perlu disediakan perkiraan tersendiri untuk biaya buruh langsung. Pada akhir periode dibuatkan jurnal penyesuaian untuk upah yang masih belum saatnya dibayar. Pembebanan biaya buruh langsung dilakukan dengan mambuat jurnal penutup ke rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.

Biaya Overhead Pabrik (Overhead)

Biaya ini terdiri dari berbagai jenis, misalnya: bahan pembantu, tenga keja tidak langsung, gaji, listrik, telepon, perlengkapan pabrik, pemeliharaan dan perbaikan, asuransi, penyusutan bangunan pabrik, penyusutan mesin-mesin pabrik, penyusutan kendaraan pabrik, penyusutan peralatan pabrik dan lain-lain. Untuk tiap-tiap jenis biaya dapat dibuatkan rekening tersendiri di buku besar. Atau, kalau ingin lebih sederhana, dalam buku besar hanya disediakan satu rekening saja yaitu biaya overhead pabrik sebagai rekening induk (sesungguhnya). Rincian biaya overhead pabrik ke dalam tiap-tiap jenis biaya dicatat dalam buku tambahan. Pembelian biaya overhead pabrik, misalnya pembelian bahan pembantu, dicatat dalam buku pembelian. Pembayarannya, dicatat dalam buku pengeluaran kas. Pembebanan biaya overhead pabrik ke dalam produksi dilakukan dengan membuat jurnal penutup atas rekening yang bersangkutan. Rekening lawanya adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.

Persediaan dalam Proses ( Work in Process Inventory )

Proses produksi adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus. Sementara itu, akuntansi harus melaporkan informasi keuangan secara berkala. Akibatnya, pada saat laporan keuangan harus dibuat, terdapat kemungkinan adanya sebagian barang yang belum selesai diproses. Walaupun demikian, biaya yang telah terjadi untuk barang itu, tetap harus dilaporkan. Inilah yang dicantumkan sebagai persediaan dalam proses. Untuk memperoleh beban pokok produksi barang yang telah selesai, biaya pabrik ditambah dengan nilai persediaan dalam proses di awal periode dan dikurangi dengan nilai persediaan dalam proses di akhir periode.

Pesediaan dalam proses, baik di awal maupun akhir periode diperoleh dengan jalan melakukan penghitungan phisik. Untuk sementara, jangan diperhatikan dahulu bagaimana menghitung nilai persediaan dalam proses. Yang perlu diketahui adalah bahwa nila ini terdiri dari biaya bahan baku, buruh langsung dan biaya pabrikase yang telah terjadi sampai dengan saat dilaporkan. Untuk mencatat nilai persediaan dalam proses, dibuatkan rekening yang diberi nama: “Persediaan dalam Proses”. Pada akhir periode dibuat jurnal penyesuaian untuk menghilangkan persediaan dalam proses awal dan membebankannya ke proses produksi. Sementara itu, jurnal penyesuaian lain untuk menimbulkan persediaan dalam proses yang ada pada akhir periode. Rekening lawan yang digunakan dalam jurnal penyesuaian tersebut adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.

Ilustrasi Akuntansi Perusahaan Manufaktur

alur pembebanan biaya ke dalam proses produksi

Di atas telah diberikan ilustrasi tentang alur pembebanan biaya ke dalam proses produksi hingga pengakuan beban pokok penjualan. Alur ini digambarkan dalam bentuk hubungan di antara buku besar perkiraan-perkiraan yang terkait dengan proses produksi dalam sebuah perusahaan manufaktur. Kita dapat melihat di situ, apa saja perkiraan yang terkait dan harus dibuatkan jurnalnya selama proses produksi berlangsung, dan kapan masing-masing perkiraan tersebut harus didebitkan atau dikreditkan. Tentu saja, ilustrasi tersebut menggambarkan pencatatan yang harus dibuat ketika perusahaan menerapkan metode perpetual untuk persediaannya dalam akuntansi perusahaan manufaktur.