7 Tantangan Industri Manufaktur & Cara Mengatasinya
Secara umum, dapat dikatakan bahwa manufaktur merupakan kegiatan memproses suatu atau beberapa bahan menjadi barang lain yang mempunyai nilai tambah yang lebih besar. Kegiatan manufaktur dapat dilakukan oleh perorangan atau manufacturer maupun oleh perusahaan atau manufacturing company. Sedangkan industri manufaktur merupakan kelompok perusahaan sejenis yang mengolah bahan-bahan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang bernilai tambah lebih besar. Ketahui lebih banyak tentang perkembangan industri manufaktur di Indonesia, apa saja tantangan industri manufaktur, dan bagaimana cara menghadapinya.
Selain kondisi perekonomian nasional dan internasional yang tidak stabil, ada berbagai tantangan industri manufaktur yang harus dihadapi. Berikut ini adalah beberapa tantangan utama dalam industri manufaktur:
1. Kesulitan dalam memprediksi permintaan produk
Yang menjadi masalah utamanya adalah para produsen tidak memiliki alat
pelaporan canggih yang memungkinkan mereka untuk memperkirakan berapa
banyak yang harus mereka jual di beberapa bulan atau beberapa tahun ke
depan. Akibatnya, barang yang diproduksi tidak sesuai dengan yang
dibutuhkan pelanggan.
Agar dapat mengetahui berapa banyak permintaan pelanggan untuk setiap produk, maka setiap produsen sebaiknya memiliki perangkat lunak dengan fitur pelaporan yang akurat. Sehingga dapat memudahkan mereka dalam menargetkan penjualan serta memperkirakan berapa banyak produk yang sebaiknya mereka jual di masa depan. Selain memanfaatkan perangkat lunak untuk membuat prakiraan yang akurat, setiap produsen juga perlu melakukan pertimbangan berdasarkan kejadian-kejadian eksternal seperti pergerakan kurs mata uang, kenaikan harga bahan bakar minyak, tren pasar saat ini, dan lain sebagainya.
2. Kesulitan dalam mengontrol persediaan
Pengelolaan
persediaan memang masih menjadi salah satu tantangan industri
manufaktur. Tetapi berkat bantuan solusi otomatis, prosesnya sudah
menjadi lebih sederhana. Namun sayangnya, saat ini masih banyak produsen
yang bisnisnya berskala kecil, masih mengelola persediaan material
mereka secara manual. Melakukan pengecekan stok secara manual sangat
tidak efisien dan rawan kesalahan yang dapat mengakibatkan
ketidakakuratan dalam penghitungan.
Untuk menghindari pembelian bahan baku dan peralatan yang tidak perlu atau untuk menghindari terjadinya kekurangan persediaan yang berujung pada ketidakpuasan pelanggan, strategi manajemen persediaan yang baik sangat diperlukan. Audit dan pemeriksaan inventaris secara rutin penting untuk dilakukan sebagai proses identifikasi terhadap ketidaksesuaian pada data dan jumlah barang yang sebenarnya. Barcode scanner juga dapat digunakan untuk mempercepat proses pengecekan.
3. Kesulitan dalam meningkatkan efisiensi di pabrik
Hingga
saat ini produsen masih mencari cara yang efektif untuk mengurangi
biaya dan meningkatkan efisiensi di pabrik manufaktur mereka. Banyak
produsen yang memilih untuk mengorbankan kualitas produk demi mengurangi
biaya produksi. Tetapi cara ini justru akan menurunkan profitabilitas,
sebab pelanggan yang tidak puas akan berhenti melakukan pembelian.
Salah satu cara yang paling efektif untuk mengoptimalkan efisiensi di pabrik manufaktur adalah dengan modernisasi proses dan sistemasi alur kerja. Produsen perlu mengurangi pekerjaan-pekerjaan yang membuang banyak waktu dan tenaga. Selain itu, produsen juga perlu mengurangi pembuangan material, mengoptimalkan penggunaan peralatan produksi dengan meminimalkan kerusakan, dan menyederhanakan rantai pasokan. Sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dapat memfasilitasi semua hal tersebut sehingga dapat membantu produsen mencapai efisiensi yang optimal.
4. Kesulitan dalam meningkatkan ROI
Setiap
produsen pasti ingin meningkatkan ROI dengan mudah. Pada umumnya,
mereka memilih untuk memperbanyak produksi atau meningkatkan harga
produk. Tetapi, hal ini bukanlah cara yang efektif terutama ketika
kondisi ekonomi sedang tidak menentu sehingga dapat menurunkan daya beli
konsumen.
Peningkatan ROI dapat dilakukan dengan beberapa cara. Yang pertama adalah meningkatkan penjualan dengan strategi yang benar. Produsen perlu mendefinisikan return, sebab ROI dapat mencakup penjualan yang lebih tinggi, peningkatan pendapatan, laba yang lebih besar, pengurangan biaya overhead atau biaya produksi, retensi karyawan yang lebih tinggi, dan kepuasan pelanggan yang lebih baik. Kemudian, produsen perlu membuat tolak ukur untuk mendapatkan hasil investasi yang optimal. Yang kedua adalah memperbarui strategi pemasaran dengan memanfaatkan digital marketing, karena biayanya lebih murah daripada cara konvensional. Yang ketiga adalah mengurangi biaya produksi dengan mengubah desain atau material kemasan tanpa harus mengorbankan kualitas produk dan bernegosiasi dengan pemasok untuk memberikan harga diskon.
5. Kekurangan tenaga kerja yang berkualitas
Hal tersebut dikarenakan saat ini pekerja manufaktur yang berkualitas dari generasi baby boomers
sudah mulai meninggalkan pekerjaan mereka. Untuk mengatasi kekurangan
tenaga kerja yang berkualitas, produsen harus kreatif dalam melakukan
perekrutan karyawan. Yaitu dengan mengandalkan berbagai online platform untuk mem-posting
lowongan pekerjaan. Produsen harus benar-benar selektif saat memilih
calon karyawan dan memastikan bahwa mereka mampu bekerja dengan cepat,
sesuai dengan target, di bawah tekanan, dan tidak keberatan dengan
jadwal kerja yang berubah. Selain itu, produsen juga harus dapat
memfasilitasi karyawan baru dan karyawan lama dengan pelatihan secara
berkala untuk membantu meningkatkan potensi karyawan tersebut.
6. Kesulitan dalam mengelola prospek penjualan
Tantangan
lain yang sering dihadapi oleh produsen adalah dalam hal mengelola dan
memprioritaskan prospek penjualan. Kesalahan yang paling sering
dilakukan oleh produsen adalah memperlakukan prospek dengan cara yang sama.
Padahal setiap prospek harus diperlakukan secara khusus, karena
masing-masing memiliki karakter, preferensi, dan kebutuhan yang berbeda.
Produsen juga sering kesulitan untuk mengidentifikasi prospek yang
berpotensi sehingga mereka sering berfokus pada peluang-peluang yang
tidak menjanjikan dan lupa melakukan follow up dengan prospek yang memiliki potensi tinggi menjadi pelanggan baru.
Produsen harus benar-benar paham terhadap prospek mereka. Hal ini dapat dilakukan ketika tim penjualan menghubungi atau menemui prospek secara langsung, dan bisa juga dengan melihat informasi prospek. Produsen harus memiliki satu sistem yang memudahkan mereka untuk menyimpan, mengelola, dan melacak informasi prospek secara mudah.
7. Kebingungan pada kemunculan teknologi baru
Kemunculan
teknologi baru memang sering terjadi setiap tahunnya. Meliputi IoT,
robot, dan perangkat lunak manufaktur. Kemunculan teknologi-teknologi
canggih tersebut tentu saja membuat para produsen merasa kebingungan.
Menghindari teknologi tentu aja bukan merupakan pilihan yang baik. Karena setiap produsen memang harus bisa beradaptasi terhadap perubahan apapun, termasuk teknologi, untuk dapat bersaing di industri manufaktur yang kompetitif. Akan tetapi, produsen sebaiknya tidak gegabah dalam membuat keputusan untuk mengimplementasikan solusi otomatis di pabrik mereka. Cara terbaik yang dapat produsen lakukan adalah dengan berdiskusi dengan seluruh pemangku kepentingan dan melibatkan karyawan mereka untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi sehari-hari. Produsen juga perlu mempertimbangkan anggaran perusahaan untuk menentukan apakah perusahaan siap untuk berinvestasi pada teknologi yang diinginkan atau tidak.